Daisypath Wedding Ticker chiexa: June 2006

chiexa

Thursday, June 29, 2006

..........

Aku masih seperti biasa
Hanya ada sesuatu yang mulai agak berbeda
Ketika tiba masanya engkau mulai hilangkan bayangku
Ketika engkau telah mulai mencoba menghapus namaku
Meskipun itu adalah kebebasanmu

Aku siap menerima segala amarah dan murka darimu
Apabila itu memang buat reda gejolak dihati
Yang menyiksa keseharianmu tiada henti

Kalaupun sebuah nama atas diriku telah pupus dari memorimu
Kalaupun kisah canda tawa yang lalu itu telah pudar dari buku diarymu
Maka aku memang tiada dapat berkata apa - apa
Tiada kuasa......
Karena aku tahu
Itu adalah perjuanganmu dalam mengoreh suasana baru
Yang terbebas dari sesuatu akanku...........
Dan aku telah ikhlas untuk kau singkirkan dari ingatanmu.......

maaf......

Entah mengapa kau begitu berbesar hati untukku
Telah berapa banyak dosaku yang berhasil kau pupuskan
Tanpa sisa......
Tanpa remah - remah kesumat atau murka
Sosok yang memaklumi atas ketidak berdayaanku

Maka aku siap mereguk sesal
Bilamana suatu saat kau telah hempaskanku
Atas kealpaan dan khilaf yang pernah kulaksanakan

Namun kau bukan sosok keras seperti itu
Aku tahu kelembutan yang senantiasa kuasai pijar - pijar langkahmu
Aku memohon kata maaf dari dalam hati
Bukan sekedar kata - kata singkat dari mulutku

penantiankah atau.....perlu kesabaran.......??????

Meski kekasih sementara hanya sebuah sebutan
Meski harapan belum kunjung pada kenyataan
Namun aku masih berjibaku akan kemelut dihati
Setelah tragedi dimalam itu
Yang dengan buasnya menyayat perasaan halusmu
Perasaan yang sesungguhnya telah tulus untuk menerimaku
Aku masih betah merindukan bayang - bayang lembutmu
Aku masih ingin selalu dekat denganmu.......

Meski pagi telah merubah kepekatan malam menjadi bias - bias kebahagiaan
Meski kicau burung telah mengisi kehampaan malam itu jadi riuh gemuruh keceriaan
Meski helaan nafas sang angin sejuk telah segarkan kembali jiwa kita
Yang saat itu sama - sama telah lesu tertunduk
Namun telapak tangan ini masih hendak menggapai gemulai lenganmu
Apabila engkau masih berkenan menerima kerinduanku......
Apabila engkau masih berbesar hati menyambut perasaanku yang dulu
Ya, suatu saat........

Perasaan itu tidak dapat sirna direngkuh berbagai zaman
Kerinduan itu tiada akan bisa dipendam dalam kuburan masa yang terus berlalu
Aku masih ingin selalu dekat denganmu
Meski jatah usiaku tiada lagi lama berpijak disemesta raya

Apabila Dia memang merestui.......
Maka kuyakin rasa itu tetap utuh terjaga
Dan kasih sayang tidak lagi akan berpaling dari kita

Kekasih.......
Cinta itu memang sebuah kesabaran yang melelahkan
Sebuah penantian yang teramat panjang
Dan bukannya wacana singkat yang hanya nikmat sesaat
Maka bersabarlah.......

adakah secercah cahaya itu

Siang ini mega tengah asyik bergumul akan mendung
Baru saja hujan hapuskan segala dahaga seketika di Ibukota
Hening disini dan gemuruh genta halilintar diangkasa raya
Seakan terus mengguncang raga yang bersemayam dalam tubuh
Aku masih terhenyak dalam dimensi kebisuan
Aku masih terpukul atas cerita dimalam itu......

Apakah Dia tahu akan gulana sesosok aku
Apakah Dia mau mengerti tentang kepedihanku saat ini......

Mungkin Dia hanya merestui kasih sayang diantara kita
Kasih sayang yang bukan jalinan cinta
Tapi aku tetap percaya......
Cercah cahaya itu masih tampak untuk sebuah kehampaan jiwamu
Meski cahaya itu masih teramat jauh untuk kau gapai
. . . . . . .

Maka tak perlu lagi kau menghilang karenaku......
Biar aku yang berpamit pergi dari hidupmu

kisah yg harus berhenti dgn cepat......

Ketika aku telah nodai harapmu
Ketika aku telah menuai getir - getir kepahitan
Ketika langkah yang akan kita tapaki mendadak harus terhenti
Dan ketika sepasang sayap mungil itu telah menjejak bumi dengan paksa
Adalah akibat ketidak berdayaanku seorang......
Dalam merengkuh sebuah nama cinta

Yang Esa pun tahu bahwa kau mengerang disana
Bahwa malam tadi baru saja halilintar isi ruang - ruang malam yang sunyi
Yang hanya ada derai berai air mata.......
Kelam diluar sekelam perasaan kita
Yang tengah hempaskan kita pada cadas dan karang
Ditengah jalinan yang baru akan kita sulam bersama

Aku telah menikammu......
Ditengah langkah yang belum lama kita padu

Aku telah mencabik sebuah hati yang ada padamu
Dan irama isakmu telah membunuh kujur tubuhku
Air matamu telah menyinggung nuraniku
Menyinggung nurani untuk sebuah tangisan dan penyesalan

Aku sesali tentang alur - alur kisah kita
Yang bermuara pada sebuah kekecewaanmu
Kekecewaan seorang yang tidak berdosa apa - apa

Ya
. . . . . . . . . .
Tuhan baru saja menghukumku dengan air mata dan penyesalan

rintihan hati itu............

Air mata senantiasa iringi apa yang kau tatap sekarang
Aku memahami rasa kecewa itu......
Aku mengerti rintih dan keluh kesah itu
Namun air mata itu jatuh sangat terlalu dini
Disaat yang sesungguhnya tak perlu kau gundahi

Aku bukan siapa - siapanya.....
Anggaplah hanya suatu kamuflase di usia belia
Aku tetap seorang aku......
Yang seperti ini apa adanya

Dan aku takkan pernah menyesali tentang perkenalan kita

adakah cinta itu padamu

Ketika aku mulai jelajaki punggung bumi
Ketika nafasku mulai bersinggungan dengan kemesraan
Perlahan deru - deru romantisme menggiringku
Utuh menuju singgasana
Dimana dapat kujumpai sosok sebenarnya sebuah cinta

Namun masih kunanti kehadiran cinta baru
Yang benar - benar ada didalam lingkaran restu-Nya
Bukan lagi sekedar cinta yang direkayasa materi dan birahi
Adakah cinta itu padamu...?

Namun dalam keheningan disaat ini
Biar saja kulewati masa yang berlalu pergi
Seraya aku mengoreh hingga kudapati
Wujud cinta nyata ......
Cinta yang betul - betul memiliki makna cinta

hilangnya senyum cleopatra

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan
kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya
Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo

dulu" kata ibu. "Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan
jenis
akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan
diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas
kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan
anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama
sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami,
bisa
jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku
lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra,
yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung
indah,
mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari
menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon
istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada
ibuku,
tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.

Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa
tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan
shalawat
Nabi pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis,
tetapi
hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku
adalah
mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfirli wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota
Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah.
Betapa
susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat
bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang
teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama
Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang
jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh
tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang
kerja.
Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena ia
orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak
apa-apa
koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah
tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil
'mbak', " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah
tidak
mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam"
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak
lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad
nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan,
kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus
bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini".
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka
karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi
komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana
tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar
dan
kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum
kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang aku
berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku
dengan
khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir.

"Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit
lagi
mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya
sudah
siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke
kamar
mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan
pintu
membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku
merasa
mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari
ke
kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan
tengkukku
seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk
angin
diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" tanya
Raihana
sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak
tahu
apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin"
jawabku
lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut
Raihana
sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja
ibunya.
Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya
yang
halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur
kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al
Quran
dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi
tak
semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi
bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di
istananya."
Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu"
kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk mencarikannya seorang
pangeran,
aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku
mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat
Mona
Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu
mempersilakan aku
duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat
duduk,
tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat
Isya"
kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "
Maafkan
aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih
Hana
sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun
cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi
semakin
tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi
apakah
dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat
Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari
mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belum
pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisan
Cleopatra.

" Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,
tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara
lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Ma....maaf
jika
mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku
D..Din...Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya
Mas!"
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan
dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil
"dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te...terima kasih...Di...dinda,
kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku
sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku
dengan
wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. " Terima
kasih
Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda
siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?". Hana begitu
bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan
bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah
melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah
sedihnya
ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku
ini,
kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap
dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan
membasahi
hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana
aku
mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri di
dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
"
Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling
ideal
dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
ubundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan
Raihana
lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal?
Ideal
bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa lagi
memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta
seperti
yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar
hangat.
Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga
kewibawaanku di
mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan,
menyanjung
kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku
bangga
dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku.
Lebih
pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan.
"
Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya
ya,
padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak
lama
lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?"
sahut
Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk
sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.
Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri
aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku
memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin
manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung
tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu
aku
semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan
lagi.
Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam
dan
mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke
enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan
alasan
kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.
Karena
rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh
curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan,
Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita,
tolong
nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no
pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari
Aku
tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa
sebabnya
bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan
segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di
Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku
pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan
perut
mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk
angin
dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi
tubuhku
dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku
terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam
hati,
aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,
andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak
terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi
aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu
dosen
mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa
arab
dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mEsir.
Dalam
pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa
arab
dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu
pengalaman
hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah
menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan
orang
mana?. " Orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya
pulang
dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan
perempuan
shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari
pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". "
Kau
sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku
melakukan
langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir
itu,
tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa
terjadi?". " Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank
arena
terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya
begini,
Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke
Mesir
dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,
orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama
sayalulus
dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari
Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan
rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak
gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan
pertama
saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan
saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh
Fadhil.
Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu
atau
sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika
saya
menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini,
sama-sama
menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar
yang
hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada
dengan
YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk
menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
Yasmin
menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang
mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali
ke
MEdan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di
Indonesia.
KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun
pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke
Mesir
menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan
YAsmin.
Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga
lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk
berhemat.
Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku
mati-matian berbisnis, demi keinginanYasmin dan anak-anak terpenuhi.
Sawah
terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul
penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang
hidup
dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa
berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa
yang
mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin
tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir
biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan,
maka
rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang
lalu.
Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya,
tetapi
dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang
dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal
meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan
kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu
mengalah.
Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko
yang
kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup
untuk
merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin
mulai
berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy
yang
menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta
kau
ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata
Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita
bahwa
tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi
bisnisman, dan istrinya sudah mennggal. Yasmin diajak makan siang, dan
dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa
menahan
diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan
adalah
tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin
sering
mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami
depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir
sekaligus
mendapat salinan surat nikah Yasmin dengann temannya. Hati saya sangat
sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan
hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang
dimataku,
tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada
kerinduan
yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah
meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan.Hanya
karena
kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku
belum
terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya.

Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya?
Sudah
delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya.
Dia
ingin agar aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku
menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk
Raihana,
juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia
tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua,
tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan
dibawah
bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku
berdesir,
darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah
membuat
surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan
lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong....Dengan rasa takut
kubaca
surat itu satu persatu. Dan Rabbi...ternyata surat-surat itu adalah
ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa
ia
mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan
diri
untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah
tempat ia
meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan
doa
untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati
dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu.
Lakalhamdu ya
Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena
karunia-Mu
yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang
kenistaan. Ya
Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba......"tulis
Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yang
kerdil
penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita
jiwa
ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil
penuh
derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak
mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba
padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku
padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada
hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena
kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta
hamba
masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap
berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba
sangat
mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan
cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa
hamba-Mu
ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang
luar
biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana
terbayang.
Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang
tiada
putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk
kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam
keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk
dalam
jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta
Raihana
yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu
kuat
mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku
tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi
cintaku
dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air
mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman kuusap
air
mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan> menangis
tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?".
Ibu
mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya
yang
telah terjadi. " Raihana...istrimu..istrimu dan anakmu yang
dikandungnya". "
Ada apa dengan dia". " Dia telah tiada". " Ibu berkata apa!". " Istrimu
telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami
membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum
meninggal,
dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan
kekhilafannya
selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu
bahagia.
Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia
minta
kau meridhionya". Hatiku bergetar hebat. " Ke...kenapa ibu tidak
memberi
kabar padaku?". " Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah
mengutus
seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada.
Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak
ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu
ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat
sedih, Jadi maafkanlah kami".

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku
merasakan
cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia
telah
meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia
telah
meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta
maaf
dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan
perasaan bersalah tiada terkira. Ibu mertua mengajakku ke sebuah
gundukan
tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada
dua
buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak
kuat
menahan rasa cinta, haru,rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku
ingin
Raihana hidup kembali.

Dunia tiba-tiba gelap semua.......

arti mecintai

Sangatlah menyakitkan mencintai seseorang,
tetapi tidak dicintai olehnya.
Tetapi lebih sakit, bila mencintai dan tidak pernah menemukan keberanian untuk memberitahu dia apa yang kamu rasakan.
Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang tetapi membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu dengan yang tepat.
Jadi ketika! kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat, kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut.
Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan, kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu.
Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang lain terbuka.
Tetapi kadang-kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang telah tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka untuk kita.

Teman yang terbaik adalah teman dimana kamu dapat duduk bersamanya dan merasa terbuai, dan tidak pernah mengatakan apa-apa dan kemudian berjalan bersama.
Perasaan seperti itu adalah percakapan termanis yang pernah kamu rasakan.
Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang kita dapatkan sampai kita kehilangan itu.
Tetapi benar juga bahwa kita tidak tahu apa yang hilang sampai itu ada.Memberikan seseorang semua cintamu tidak pernah menjamin bahwa mereka akan mencintai kamu juga !!!

Jangan mengharapkan cinta sebagai balasan, tunggulah sampai itu tumbuh didalam hatinya.
Tetapi jika tidak, pastikan dia tumbuh didalam hatimu.
Ada hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu ingin dengar.
Tetapi jangan sampai kamu menjadi tuli walaupun kamu tidak mendengar itu dari seseorang yang mengatakan itu dari hatinya.

Jangan pernah berkata selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu merasa masih dapat maju.
Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walapun mereka telah dikecewakan.
Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.

Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu.
Jangan melihat kekayaan, itu bisa menghilang.
Datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah.
Berharaplah kamu dapat menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum. Ada saat di dalam kehidupanmu dimana kamu sangat merindukan seseorang, Kamu ingin mengambil mereka dari mimpimu dan benar-benar memeluk dia.Berharaplah bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia, yang berarti mimpilah apa yang ingin kamu mimpikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah sesuai dengan keinginan kamu, karena kamu hanya hidup sekali dan satu kesempatan untuk melakukan apa yang kamu inginkan.

Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu bahagia.

Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain.
Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu, mungkin itu menyakitkan orang itu juga.
Kata-kata yang ceroboh dapat mengakibatkan perselisihan, kata-kata yang kasar bisa membuat celaka, kata-kata yang tepat waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan menyenangkan. Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya !
sendiri dan tidak membentuk mereka menjadi sesuai keinginan kita. Dengan kata lain kita mencintai bayangan kita yang ada pada diri mereka.
Orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal.
Mereka hanya membuat segala hal yang datang dalam hidup mereka. Kebahagiaan adalah bohong bagi mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang mencari, mereka yang mencoba.
Mereka hanya bisa menghargai orang-orang penting yang telah menyentuh hidup mereka.
Cinta mulai dengan senyuman, tumbuh dengan kemesraan dan berakhir dengan air mata.
Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kau melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.
Ketika kamu lahir, kamu menangis dan semua orang di sekeliling kamu tersenyum.Hiduplah dengan hidupmu, jadi ketika kamu meninggal, kamu satu-satunya yang tersenyum dan semua orang di sekeliling kamu menangis.

lelaki

Jika seorang wanita menangis dihadapanmu,
Itu berarti dia tak dapat menahannya lagi.

Jika kamu memegang tangannya saat dia menangis,
Dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu.

Jika kamu membiarkannya pergi,
Dia tidak akan pernah kembali lagi menjadi dirinya yang dulu.
Selamanya....

Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
Kecuali didepan orang yang amat dia sayangi.
Dia menjadi lemah.

Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
Hanya jika dia sangat menyayangimu,
Dia akan menurunkan rasa egoisnya.

Lelaki, jika seorang wanita pernah menangis karena mu,
Tolong pegang tangannya dengan pengertian.

Dia adalah orang yang akan tetap bersamamu sepanjang hidupmu.

Lelaki, jika seorang wanita menangis karenamu.
Tolong jangan menyia-nyiakannya.

Mungkin karena keputusanmu, kau merusak kehidupannya.

Saat dia menangis didepanmu,
Saat dia menangis karnamu,

Lihatlah matanya....

Dapatkah kau lihat dan rasakan sakit yang dirasakannya?


Pikirkan....

Wanita mana lagikah yang akan menangis dengan murni, penuh rasa sayang,
Didepanmu dan karenamu......

Dia menangis bukan karena dia lemah
Dia menangis bukan karena dia menginginkan simpati atau rasa kasihan

Dia menangis,
Karena menangis dengan diam-diam tidaklah memungkinkan lagi.


Lelaki

Pikirkanlah tentang hal itu

Jika seorang wanita menangisi hatinya untukmu,
Dan semuanya karena dirimu.

Inilah waktunya untuk melihat apa yang telah kau lakukan untuknya,
Hanya kau yang tahu jawabannya....

Pertimbangkanlah

Karena suatu hari nanti
Mungkin akan terlambat untuk menyesal,
Mungkin akan terlambat untuk bilang 'MAAF'!!

perubahan itu..........

Istilah teman bukan berarti memutus percakapan...
Istilah kawan bukan berarti aku tidak lagi perhatian
Engkau masih tetap yang aku dambakan
Meski telah tersisip nama lain di ruang hidupku

Aku tak pernah merasakan engkau sedingin ini
Apakah kau telah bosan bercengkrama denganku....?
Apakah namaku telah dibubuhi garis merah buatmu ?

Aku masih menungu sapaan hangatmu...

kepada wanita cantik

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"

"Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.

"Aku tidak mengerti", kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akan pernah mengerti"

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"

"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"

Tuhan berkata:

"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "

"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "

"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "

"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "

"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "

"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "

"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.

Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."

"Kau tahu:

Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."

"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."

Kirimkan ini kepada setiap wanita cantik yang Anda kenal hari ini untuk memperingati Bulan Sejarah Wanita.

Jika Anda lakukan, sesuatu yang baik akan terjadi.

Anda akan menambah harga diri wanita!

Karena setiap Wanita itu Cantik.

Dihadapan orang yang kau cintai

Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah

Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat

Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang
terdalam

Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,
;engkaupun akan ikut menangis disisinya

Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan
rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.

"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada
perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang
secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah.

Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang
yang kamu sayangi.
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu
sayangi.

Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan."